Pages

Selasa, 20 Oktober 2015

Dia BIlang "Sepeti Rumah Ipin-Upin"

0 komentar
Televisi ternyata hiburan yang ajaib. Bukan hanya kita yang memiliki penglihatan dan pendengaran sempurna yang menikmatinya. Tanya saja anak tunarungu (yang memiliki hambatan pendengaran) kegiatan apa yang mereka sukai di rumah, jawabannya "nonton TV". Lalu tanya anak tunanetra (anak yang memiliki hambatan penglihatan) hiburan apa yang paling mereka sukai, televisi juga jawabannya. Itu artinya mau anak yang hanya bisa mendengar, atau anak yang hanya bisa melihatpun semua bisa merasa terhibur oleh tayangan TV.

Ada satu kelas yang paling unik di tempat kerjaku. Kelas 4 Tunanetra, muridnya berjumlah lima anak tunanetra yang cerdas, tapi sayangnya mereka digandrungi oleh tayangan anak Upin-Ipin. Dengan kecerdasannya, mereka mampu menangkap setiap kata dan dialek serial Upin-Ipin  yang akhirnya menyebabkan suasana di kelas seperti Malaysia banget. Anak-anak ini menggunakan dialek Malaysia hampir di segala kondisi, mau marah, mengolok-olok teman, membanggakan diri, atau sekadar berbincang-bincang tentang topik ringan semua dengan bahasa Malaysia. Luar biasa pengaruh televisi bagi anak-anak ini. 

Suatu hari, salah satu anak yang panggil saja Kris bercerita pengalamannya pergi ke salah satu hotel paling mewah di Kota. "Semalam aku ke hotel, ada adik mama di sana", kata Kris. "Lantai hotelnya lantai kayu lahh.." tambah Kris menceritakan suasana hotel dengan nada ke Malaysia Malaysiaan. Apa istimewanya lantai kayu bagi Kris yang tunanetra ini? Apa mungkin dia suka memperhatikan interior ruangan juga. Lalu di akhir cerita, alasannya pun terungkap. "Lantai kayu, seperti rumah Upin-Ipin", Kata-kata Kris bikin aku terkejut.

Aku tau dia suka serial Upin-Ipin. Dia pasti suka mendengarkan dialog Upin-Ipin yang lucu. Tapi Kris kan tunanetra total? Dari mana Kris tau kalau rumah Upin-Ipin adalah rumah berlantai kayu? Mungkin Kris mendengarkan suara derap langkah Upin-Ipin ketika berlari di dalam rumah lalu mengambil kesimpulan kalau itu lantai kayu. Atau mungin sangking senangnya dengan Upin-Ipin sampai-sampai Kris bertanya ke orang tuanya secara detail seperti apa dunia Upin-Ipin."Kris dari mana kamu tau kalau rumah Upin-Ipin dari lantai kayu?", tanyaku penasaran. "Ya tau lah~", Jawab Kris lengkap dengan logat sok Malaysianya. Oalah Kris.. TV yang ajaib, atau kamu yang terlalu ajaib sih... :P

Selasa, 10 Desember 2013

The Beautiful Tree–Sekolah untuk Kaum Miskin

0 komentar

Sekolah_untuk_Ka_51134b5a04b99

Apa yang kita pikirkan tentang pendidikan di negara miskin? yang kita tahu bahwa mereka membutuhkan uang untuk membangun gedung-gedung sekolah dan menyediakan fasilitas pendidikan yang layak. Sayangnya, pemerintahnya tidak memiliki dana yang cukup untuk pengadaan berbagai fasilitas pendidikan tadi. Satu-satunya cara adalah jika mereka mendapatkan bantuan berupa uang dari lembaga bantuan internasional atau negara-negara barat. Langkah ini pun selalu didengungkan oleh lembaga bantuan, atau Bintang POP yang menjadi duta PBB. Selama ini negara miskin selalu dianggap tidak berdaya menyediakan pendidikan, sehingga mereka harus pasrah dan sabar menunggu bantuan dari lembaga internasional. Perjalanan James Tooley ke sekolah-sekolah di berbagai negara miskin akan membuka pandangan kita selama ini. Sekaligus akan mengubah pandangan kita mengenai sekolah swasta.

Sabtu, 28 September 2013

Ide Sekolah Bebas #Part 2 : Summerhill School

0 komentar
Sambungan dari Ide Sekolah Bebas
Metode Cinta
Apapun teori yang ada tentang menangani anak nakal dan bermasalah, summerhill menggunakan satu metode utama, yaitu metode cinta. Kejahatan yang dilakukan anak adalah ungkapan dari kebencian. Kebencian karena dia dibesarkan dengan kebencian pula. Mungkin orang tua yang kasar atau kurang perhatian.
Lingkaran Setan
Satu contoh kasus dari teman saya sendiri, masalah anak nakal bisa menjadi lingkaran setan. Kebetulan sepupunya adalah anak yang dianggap nakal dan memang perilakunya sudah melampaui batas. Dia memukul kambing-kambing peliharaan neneknya hingga tulangnya patah. Dia menjambak rambut temannya, dan merusak barang-barang. "Padahal orang tuanya sudah galak lo..", kata temanku. Ungkapan "padahal" itu menunjukkan bahwa orang tua yang galak akan menyebabkan si anak menjadi sembuh. Padahal kenakalan anak bisa disebabkan oleh perlakuan orang tua yang kasar dan galak. Sementara orang tua berdalih mereka bersikap galak karena anaknya nakal. Begitu seterusnya dan terjadilah lingkaran setan.

Ide Sekolah Bebas

0 komentar
Suatu hari di sebuah sekolah dasar terdapat sebuah kelas dengan bangku-bangku mungil yang diduduki oleh siswa-siswa yang masih imut dan mungil. Mereka masih duduk di kelas 1 SD. Kelas itu begitu ribut tak terkendali. Guru kelasnya selalu mengeluh "kenapa kalian selalu ramai. Coba yang tertib", atau bahkan selalu membanding-bandingkan "kelas lain bisa tertib kenapa kalian tidak?".

Sementara lepas dari ramai atau tidaknya suasana kelas, hawanya memang tidak nyaman. Seorang siswa hanya diam tidak menanggapi keramaian teman-temannya, tapi bukan karena tertib. Dia merasa tidak nyaman oleh hawa panas yang menyengat dan bangku-bangku yang lebih terasa sebagai jeruji besi.

Setiap hari, ketika anak-anak belajar di atas bangku dan mejanya, mereka berteriak karena jarak antara bangku dan meja dirasa terlalu sempit. Anak dibelakang meneriaki teman di depannya. "Maju dong, Sempit!!!". Anak di depan juga meneriaki anak depannya "Sempit!!!". Begitu seterusnya hingga terjadi keributan lagi. "Sempiiit! sempiiiit!!!". Kalau sudah begitu, guru hanya memperingatkan, "kenapa ribut terus? duduk yang tenang di bangku kalian".
Kenapa ini? Kenapa sekolah begitu menyiksa? Apakah sesuatu yang disukai anak selalu dilarang di dalam sekolah?
********

Selasa, 24 September 2013

Asal Tahu Tunarungu

1 komentar
Apa itu tunarungu? Yang orang tahu, tunarungu adalah orang yang tidak dapat mendengar, TITIK. Sebenarnya, menjelaskan tunarungu atau tuli tidak semudah itu. Bukan hanya dia tidak bisa mendengar, lalu selesai begitu saja.

Pertama, kebanyakan anak tuli menggunakan isyarat sebagai cara mereka berkomunikasi. Ini karena telinganya tidak dapat menangkap suara percakapan. Bagaimana jika mereka mengucapkan kata? Kata yang keluar pasti tidak akan jelas, atau bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Kebanyakan orang menyebutnya bisu. Jadi, anak tuli biasanya juga bisu, munculah istilah bisu dan tuli.

Kenapa bisa begitu?

Minggu, 22 September 2013

Hak Isyarat bagi Anak Tunarungu

0 komentar
Metode komunikasi isyarat bagi tunarungu ternyata masih menuai pro dan kontra. Ternyata tidak semudah itu menentukan metode pengajaran mana yang tepat untuk anak berkebutuhan khusus. Ulasan tentang isyarat sudah pernah di tayangkan di blog ini sebelumnya, dan dapat dibaca di sini. Terbukti begitu post dipublikasikan, muncul komentar kontra dari mahasiswa Pendidikan Luar Biasa yang mengatakan bahwa isyarat sangat penting bagi tunarungu. Para anggota komunitas tuli saat ini di Kota Solo sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan bahasa isyarat sebagai hak aksesibilitasnya. Terus terang saya tidak peduli tentang hal itu. Sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya seputar bahasa isyarat, kenapa isyarat menjadi tidak begitu penting. Namun paradigma ini berubah setelah mengikuti kuliah umum oleh Nick Palfreyman.

Minggu, 15 September 2013

Bisa Isyarat Nggak? Maaf, itu “Dilarang”

4 komentar
Itu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika orang tahu aku sedang belajar di Pendidikan Luar Biasa. Pertama tanya “ambil apa di UNS?” aku jawab “Pendidikan Luar Biasa”. Pasti muncul pertanyaan selanjutnya, “apa itu?”. Aku jawab singkat, “Menangani anak berkebutuhan khusus. Singkatnya guru Sekolah Luar Biasa”. Dan muncullah pertanyaan itu. “Bisa bahasa isyarat dong?”.
Yah memang PLB mempelajari pendidikan anak berkebutuhan khusus, atau special education. Jadi wajar kalau pertanyaan seputar bahasa isyarat ditanyakan. Tapi sebenarnya, selama kuliah di Pendidikan Luar Biasa, bahasa isyarat sama sekali tidak diajarkan. Ketika aku masih mahasiswa semester awal, aku juga agak heran, campur agak protes. Kenapa keterampilan kompensatoris anak tunarungu malah tidak diajarkan? Semakin lama berjalan, aku semakin paham kenapa isyarat tidak diajarkan di PLB.
 
 
Belajar Pendidikan Luar BiasaDesigned by TechIrsH