Pages

Minggu, 15 September 2013

Bisa Isyarat Nggak? Maaf, itu “Dilarang”

Itu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika orang tahu aku sedang belajar di Pendidikan Luar Biasa. Pertama tanya “ambil apa di UNS?” aku jawab “Pendidikan Luar Biasa”. Pasti muncul pertanyaan selanjutnya, “apa itu?”. Aku jawab singkat, “Menangani anak berkebutuhan khusus. Singkatnya guru Sekolah Luar Biasa”. Dan muncullah pertanyaan itu. “Bisa bahasa isyarat dong?”.
Yah memang PLB mempelajari pendidikan anak berkebutuhan khusus, atau special education. Jadi wajar kalau pertanyaan seputar bahasa isyarat ditanyakan. Tapi sebenarnya, selama kuliah di Pendidikan Luar Biasa, bahasa isyarat sama sekali tidak diajarkan. Ketika aku masih mahasiswa semester awal, aku juga agak heran, campur agak protes. Kenapa keterampilan kompensatoris anak tunarungu malah tidak diajarkan? Semakin lama berjalan, aku semakin paham kenapa isyarat tidak diajarkan di PLB.
Isyarat Bukan Bahasa. Aku ingat salah satu guru Bahasa Indonesiaku di SMA, Pak Budi Kusno namanya. Beliau yang mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada bahasa isyarat, isyarat hanya sebuah isyarat, bukan bahasa. Isyarat terdiri dari gerakan tangan yang mengisyaratkan sesuatu. Sedangkan bahasa lebih sistematis lagi. Karena aku bukan orang yang mendalami bahasa, untuk alasan ini silahkan tanya ahlinya.

Tidak ada penyeragaman isyarat. Isyarat di setiap wilayah pasti berbeda-beda. Jangankan di setiap kota, bahkan di setiap sekolah pun bisa berbeda. Apalagi isyarat di seluruh dunia. Semua memiliki isyarat sendiri-sendiri. Kenapa bisa berbeda? Karena ini adalah isyarat, bukan bahasa. Contoh, dalam satu ruangan ada lima orang normal. Saya perintahkan mereka untuk mengisyaratkan kata “sakit”. Lima orang tadi pasti punya konsep yang berbeda-beda tentang isyarat “sakit”. Ada yang memegang keningnya, ada yang pura-pura pingsan, ada yang merem sambil melet, semua punya persepsi sendiri-sendiri. Maka, wajar kalau di setiap wilayah punya isyarat yang berbeda-beda. Perbedaan isyarat di setiap wilayah ini membuat isyarat seperti bukan sesuatu yang cukup baku untuk dipelajari. Jadi selama di PLB, kita harus belajar isyarat sendiri. Toh ternyata, setelah beberapa kali bertemu anak tunarungu, belajar beberapa kata dasar, kita bisa mengerti apa yang mereka katakan meskipun belum lancar sepenuhnya. Hanya perlu sedikit penyesuaian. Karena dianggap bisa dipelajari secara autodidak, isyarat menjadi tidak terlalu perlu diajarkan di perkuliahan.

Teori. pelajaran yang aku terima di PLB adalah bahwa kita lebih baik melakukan komunikasi dengan cara oral dibandingkan dengan isyarat. Metode oral adalah membaca ujaran, kita mengucapkan kata-kata dengan gerakan bibir yang jelas, kemudian anak akan membaca gerakan bibir kita. Mereka bisa mengerti gerakan bibir kita jika diucapkan secara jelas dan perlahan. Kenapa lebih baik? Karena dengan kemampuan membaca ujaran, dimungkinkan mereka tidak akan mengalami kendala komunikasi dengan masyarakat luas. Kita mengharapkan mereka dapat hidup bersama dengan masyarakat. Hidup membaur dengan seluruh masyarakat, bukan hanya dengan sekelompok orang yang sama-sama tunarungu. Dosenku di PLB mengatakan, tidak ada masyarakat khusus tunarungu. Sistem kemasyarakatan kita adalah universal, tidak ada RT khusus tunarungu, desa khusus tunarungu, dan sejenisnya. Maka anak tunarungu harus bisa membaur, dan menyesuaikan diri. “Bukan malah yang normal ikut-ikutan jadi tunarungu”, kata dosenku ketika menjelaskan kelemahan bahasa isyarat.

Dilarang. Rupanya, tidak hanya materi kuliah saja yang tidak mempelajari isyarat. Di lapangan pun, di sekolah-sekolah Luar Biasa untuk kelas tunarungu, penggunaan bahasa isyarat dilarang. “Siswa harus digiring ke dunia dengar”, begitu kata dosenku. Di sekolah tunarungu, guru mengajarkan segala sesuatu dengan metode oral, dan bersuara. Diharapkan anak-anak tunarungu yang masih memiliki sisa pendengaran dapat terbiasa dengan dunia dengar. ketika guru banyak menggunakan isyarat ketika kegiatan belajar mengajar, kepala sekolah langsung mengingatkan untuk tidak lagi menggunakan isyarat. Itu yang dialami salah satu senior yang sudah lulus dan mengajar untuk kelas tunarungu. Banyak teman-teman mengatakan bukan hanya kepala sekolah saja yang melarang penggunaan bahasa isyarat, bahkan wali murid pun lebih menghendaki anak-anaknya mendapatkan pengajaran dengan metode oral agar mereka dapat lebih menguasai keterampilan komunikasi.
Tetap saja, dengan seabrek alasan di atas, pada kali pertama mendengar kata PLB, orang tidak akan mau tahu apakah Isyarat diajarkan atau tidak, dan apakah isyarat ini penting atau tidak. Orang tetap menganggap bahwa PLB identik dengan bahasa isyarat. Maka, kemampuan isyarat ini tetap penting bagi mahasiswa PLB. Kita sebagai mahasiswa PLB, dengan label “Pendidikan Luar Biasa” harus menguasai isyarat. Bayangkan ketika sebuah situasi mendesak terjadi. Contohnya ada orang tunarungu yang tidak bisa komunikasi oral, dia bertanya banyak menggunakan bahasa isyarat. Siapa yang pertama kali dipanggil untuk menjadi penerjemah? Pasti mahasiswa PLB. Bayangkan kalau mahasiswa PLB mengatakan “saya tidak bisa isyarat”, pasti yang ada kita disalahkan. “Trus di PLB belajar apa? katanya Pendidikan luar Biasa, masak gak bisa isyarat

4 komentar:

  1. isyarat itu hak untuk deaf, KArena dengan isyarat secara emosional dan komunikasi dapat lebih mengungkapkan apa yang ingin mereka katakan, dan menjadi sarana komunikasi yang efektif dari pada dengan oral.
    banyak kata - kata ucapan yang hampir sama penekanannya contohnya saja "mama" dan "papa" hal itu kadang mempersulit pemahaman dan persepsi deaf sendiri.
    "Kenapa kok kita harus belajar Bahasa isyarat? Bahasa isyarat pada dasarnya digunakan oleh orang-orang untuk mengekspresikan makna dari apa yang diucapkan. Setiap pengguna Bahasa isyarat harus juga mengekspresikan bahasa tubuh mereka dan maksud yang ingin dicapai.
    Di Amerika sign language atau Bahasa isyarat menjadi bahasa yang paling populer digunakan di Amerika. Ini adalah alasan mengapa banyak sekolah telah mewajibkan untuk mempelajari Bahasa isyarat. Dengan adanya pelajaran Bahasa isyarat atau sign language ini jelas akan memberikan kesempatan besar kepada tuna rungu atau tuna wicara untuk mendapat lebih banyak kesempatan terutama dalam karir mereka, dan keterbukaan diri mereka dalam bersosialisasi. Karena sekarang ini tampak sekali bahwa seseorang yang mengalami tuna rungu maupun tuna wicara mereka terisolasi dari bersosialisasi dan dalam dunia pendidikan di Indonesia.
    Memang, tiap daerah memiliki kebudayaan bahasa masing - masing. Bagaimana dengan bahasa isyarat?
    yah .. sama saja, tiap daerah memiliki perbedaan dalam bahasa isyarat. Namun, hal itu tidak menjadikan masalah. Karena perbedaan dari bahasa isyarat tiap daerah masih mudah untuk dipahami, dan dimengerti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih komentarnya.. ^^
      memang isyarat itu hak untuk deaf yang masih diperjuangkan sampai saat ini. Sengaja saya memposting isyarat dari sudut pandang teori di kuliah dulu, baru kemudian postingan tentang fakta di lapangan. Karena kalau saya posting langsung, nanti kepanjangan. Jadi tulisan bersambung sepertinya lebih baik.
      Di prodi saya baru saja diadakan kuliah umum oleh Nick Paifreyman, dan itu sangat membuka wawasan kami. Nantikan terus postingan terbaru saya ;)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus

 
 
Belajar Pendidikan Luar BiasaDesigned by TechIrsH